komite-keselamatan-jurnalis-usut-tuntas-penyekapan-dan-penganiayaan-jurnalis-tempo-1
Info

Komisi Keselamatan Jurnalis: Usut Sempurna Penyekapan dan Penganiayaan Pewarta Tempo

Info seputar HK Prize 2020 – 2021.

Jakarta (beritajatim. com) – Komite Keselamatan Jurnalis mengecam kasus kekerasan yang menimpa jurnalis Tempo, Nurhadi, Sabtu 27 Maret 2021 malam di Surabaya. Nurhadi menemui kekerasan ketika menjalankan perintah jurnalistik dari redaksi Majalah Tempo meliput mantan Direktur Pemeriksaan Direktorat Jenderal Retribusi Kementerian Keuangan, Angin Prayitno Aji. Sebelumnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menyatakan Angin sebagai tersangka terkaan kasus suap pajak.

Sabtu, sore pukul 18. 25, Nurhadi menentang Gedung Samudra Bumimoro pada Jalan Moro Krembangan, Morokrembangan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Jawa Timur. Ia bermaksud meminta konfirmasi dan melayani peliputan kepada Angin terpaut kasus yang sedang menjeratnya. Kebetulan, pada saat tersebut sedang berlangsung resepsi ijab kabul antara anak Angin secara anak Kombes Pol Achmad Yani, mantan Karo Perencanaan Polda Jatim.

Namun, kala Nurhadi sedang memotret Angin yang sedang berada dalam atas pelaminan dengan besannya, ia kemudian didatangi sebab seorang panitia pernikahan beserta difoto. Nurhadi yang bakal keluar dari gedung lalu dihentikan oleh beberapa karakter panitia dan ditanya jati dan undangan mengikuti agenda.

Panitia sampai mendatangkan keluarga mempelai untuk mengonfirmasi apakah mengenal Nurhadi atau tidak. Setelah rumpun mempelai mengatakan tidak mengangenali, Nurhadi langsung didorong dan dibawa ke belakang gedung oleh sesorang ajudan Angin.

Meski telah menjelaskan statusnya sebagai kuli Tempo yang sedang mengarahkan tugas jurnalistik, mereka pasti merampas telepon genggam Nurhadi dan memaksa untuk mengawasi isinya. Nurhadi juga ditampar, dipiting, dipukul di kira-kira bagian tubuhnya, dan diancam akan dibunuh.

Sepanjang proses interogasi itu, korban kembali mengalami tindakan kekerasan (pemukulan, tendangan, tamparan) hingga ancaman pembunuhan. Nurhadi juga dipaksa menerima kekayaan Rp. 600. 000, kacau sebagai kompensasi perampasan dan pengrusakan alat liputan hak korban. Oleh Nurhadi, uang ini ditolak namun karakter bersikeras memaksanya menerima, apalagi memotret ketika Nurhadi menyimpan uang tersebut. Meski serupa itu, Nurhadi tetap tidak menerima uang itu, ia meletakkannya di salah satu arah mobil pelaku.

Setelah menjalani proses penyelidikan penuh kekerasan itu, memukul 22. 25, Nurhadi kemudian dibawa ke sebuah hotel di Jalan Rajawali, Krembangan Selatan, Kecamatan Krembangan, Surabaya. Di hotel itu, ia kembali di interogasi sebab dua orang yang mengiakan sebagai anggota kepolisian Polrestabes dan anak asuh Kombes. Pol. Achmad Yani dengan bernama Purwanto dan Firman. Pukul 01. 10, Nurhadi baru diperbolehkan keluar sebab hotel dan diantarkan pulang.

“Nurhadi mengalami berbagai macam tindakan kekerasan, mulai dari intimidasi, kekerasan fisik, perusakan alat kegiatan, hingga penyekapan pada zaman melakukan tugas jurnalistik. Penghalang-halangan terhadap kegiatan jurnalistik laksana ini melanggar Undang-Undang Cetakan 40 Tahun 1999 tentang Pers. Pihak Kepolisian wajib mengusut tuntas kasus tersebut, ” kata Koordinator Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) Wawan Abk, Minggu (28/3/2021) di Jakarta.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers dan Aliansi Jurnalis Swasembada (AJI) Indonesia mencatat, kasus kekerasan terhadap wartawan pada 2020 meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya. LBH Pers mencatat, pada 2020 terjadi 117 kasus kekerasan terhadap wartawan dan media, menyusun 32 persen dibandingkan dalam 2019 (79 kasus).

Dari 117 peristiwa tersebut, sebanyak 99 kejadian terjadi pada wartawan, 12 kasus pada pers mahasiswa, dan 6 kasus di dalam media, terutama media siber. Sementara AJI Indonesia mencetak, pada 2020 terjadi 84 kasus kekerasan terhadap wartawan atau bertambah 31 kasus dibandingkan pada 2019 (53 kasus). Pelaku kekerasan paling banyak adalah aparat kesejahteraan.

Menanggapi kasus yang menimpa Nurhadi, jurnalis Tempo di Surabaya, KKJ menyampaikan beberapa peristiwa:

satu. Meminta Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta Polda Jawa Timur mengusut tuntas kasus kekerasan yang menimpa jurnalis Tempo, Nurhadi cocok hukum yang berlaku. Ketekunan Polda Jatim dalam menangani para pelaku kekerasan menjadi bukti profesionalisme Kepolisian ke depan.

dua. Meminta Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan jajarannya untuk memberikan perlindungan terhadap jurnalis yang melakukan kerja-kerja jurnalistik.

3. Mengingatkan kepada masyarakat dan aparat penegak hukum pada manapun bahwa kerja-kerja jurnalistik dilindungi oleh Undang-undang Pers.

Tentang Komite Kesejahteraan Jurnalis

Komite Keselamatan Jurnalis dideklarasikan di Jakarta, 5 April 2019. Komite beranggotakan 10 organisasi pers dan sistem masyarakat sipil, yaitu; Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers, SAFEnet, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Asosiasi Media Siber Nusantara (AMSI), Federasi Serikat Pekerja Media Independen (FSPMI), Amnesty International Indonesia, Serikat Pelaku Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI), Perserikatan Wartawan Indonesia (PWI). [but]