kini-kpk-larang-aziz-syamsuddin-pergi-ke-luar-negeri-1
Info

Kini KPK Larang Aziz Syamsuddin Pergi ke Luar Jati

Dapatkan promo member baru Pengeluaran SDY 2020 – 2021.

Jakarta (beritajatim. com) – Sesudah melakukan penggeledahan di tempat kerja di Gedung DPR RI dan rumah biro Aziz Syamsuddin, KPK kini melarang Wakil Ketua DPR itu bepergian ke asing negeri. Alasannya agar yang bersangkutan tetap berada dalam tanah air jika sewaktu-waktu diperiksa penyidik KPK.

“Benar, KPK dalam tanggal 27 April 2021 telah mengirimkan surat ke Ditjen Imigrasi Kumham RI untuk melakukan pelarangan ke luar negeri terhadap 3 orang yang terkait secara perkara ini, ” perkataan Plt Juru Bicara KPK bidang pencegahan Ali Fikri saat ditanya soal pembatasan Aziz Syamsuddin bepergian ke luar negeri, Jumat (30/4/2021).

Ali tidak menjelaskan identitas dua orang lainnya dengan ikut dilarang bepergian ke luar negeri selain Teragung Syamsuddin. “Pelarangan bepergian ke luar tsb terhitung berangkat 27 April 2021 hingga selama 6 bulan ke depan, ” tegas Ali.

Ali menyuarakan, langkah pencegahan ke asing negeri ini tentu di dalam rangka kepentingan percepatan penelitian dan menggali bukti-bukti lain. “Agar pada saat diperlukan untuk dilakukan pemanggilan & pemeriksaan pihak-pihak tersebut langgeng berada di wilayah Indonesia, ” ujarnya.

Sebelumnya, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penggeledahan di 4 lokasi berbeda di wilayah Jakarta. Perut diantaranya merupakan satu tempat kerja Wakil Ketua DPR RI di gedung DPR RI dan Rumah Dinas Wakil Ketua DPR RI Aziz Syamsuddin.

Penggeledahan dilakukan terkait pemeriksaan perkara dugaan suap buat tidak menaikkan perkara ke tingkat Penyidikan dengan tersangka penyidik KPK dari Polri AKP Stepanus Robin Pattuju. Adapun dua lokasi yang lain yang digeledah adalah perut lokasi lainnya adalah apartemen dari pihak-pihak yang terkait dengan perkara ini.

Dalam proses pemeriksaan, ditemukan dan diamankan bukti-bukti diantaranya berbagai dokumen & barang yang terkait dengan perkara. Bukti-bukti tersebut mau segera di lakukan analisa mendalam serta verifikasi buat segera diajukan penyitaan jadi bagian dalam berkas perkara dimaksud.

Bagaikan diketahui, KPK menetapkan Pemangku Kota Tanjungbalai M Syahrial (MS) dan penyidik KPK Stepanus Robin Pattuju (SRP) sebagai tersangka. Keduanya berperan perkara suap penyelidikan perkiraan kasus korupsi di Pemkot Tanjungbalai.

Selain kedua karakter tersebut, KPK juga menetapkan tersangka lain yakni adjuster Maskur Husain (MH). M Syahrial dan Stepanus saat ini ditahan KPK. Itu ditahan di tempat yang berbeda. Stepanus ditahan di Rutan KPK Gedung Abang Putih. Sementara, M Syahrial ditahan pada Rutan KPK Cabang Pomdam Jaya Guntur.

Kasus itu bermula saat M Syahrial meminta bantuan kepada Stepanus pada Oktober tahun berantakan. M Syahrial ingin pemeriksaan kasus korupsi di dunia Pemkot Tanjungbalai yang tengah dilakukan KPK dihentikan. Stepanus bersama Maskur sepakat buat membuat komitmen dengan Syahri terkait penyelidikan dugaan aksi pidana korupsi di pemkot tanjung balai untuk tak ditindaklanjuti oleh KPK secara menyiapkan uang sebesar Rp 1, 5 miliar.

KPK menduga ada peran Wakil Ketua DPR Aziz Syamsuddin sebagai yang memperkenalkan kedua pihak. Kasus ini berawal, pada Oktober 2020, M Syahrial serta Stepanus bertemu di rumah dinas Wakil Ketua DPR, Azis Syamsudin.

Dalam pertemuan itu Azis meminta Stepanus membantu M Syahrial. Dalam pertemuan itu Aziz memperkenalkan Stepanus secara Syahrial terkait penyelidikan sangkaan korupsi di pemerintahan Tanah air Tanjungbalai yang sedang dikerjakan KPK agar tidak terangkat ke tahap penyidikan dan meminta agar SRP sanggup membantu supaya permasalahan pengkajian tersebut tidak ditindaklanjuti oleh KPK. Azis diduga kenal dengan Stepanus dari ajudannya yang sama-sama anggota Polri.

M Syahrial kemudian mentransfer uang tersebut kepada Stepanus secara berantara. Total uang yang sudah diterima Stepanus sebanyak Rp 1, 3 Miliar. Tetapi penerima bukan atas nama Stepanus, melainkan segera Riefka Amalia (RA) yang ialah pihak swasta.

Syahrial menyetujui permintaan itu dengan mentransfer uang secara bertahap kurang lebih 59 kali transfer kepada bon milik saudara Riefka saudara dari Stepanus dan juga Syahrial memberikan uang secara tunai kepada Stepanus sehingga total uang yang sudah diterima oleh SRP agak Rp 1, 3 miliar.

Pembukaan bon bank oleh RSP secara menggunakan nama RA dimaksud telah disiapkan sejak Juni 2020 atas inisiatif Maskur. Setelah uang diterima Stepanus, Stepanus meyakinkan bahwa KPK tidak akan melanjutkan analisis dugaan tindak pidana manipulasi di Pemkot Tanjungbalai tersebut. [hen/suf]