BMG Prediksi Musim Hujan Akhir Oktober
Info

BMG Prediksi Musim Hujan Akhir Oktober

Bojonegoro (beritajatim. com) – Besar Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Wilayah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro Nadif Ulfia menyampaikan bahwa sebagian wilayah di Kabupaten Bojonegoro sudah mulai kesulitan mendapat air bersih. Bahkan, tujuh September 2020 pihaknya ulai mengirimkan air bersih kepada masyarakat dalam lima desa yang terdampak kekeringan.

Menurut dia, hasil rilis yang diterima dari Awak Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan, awal musim kemarau pada Indonesia bervariasi, sebagian besar dimulai Mei hingga Juni 2020. Buatan pemantauan perkembangan musim kemarau tenggat akhir Agustus 2020 menunjukkan kalau hampir seluruh wilayah Indonesia (87 persen) sudah mengalami musim besar.

“Dalam rilis tersebut disebutkan, Samudra Pasifik diprediksi berpeluang terjadi La-Nina, sedangkan Samudra Hindia berpotensi terjadi IOD negatif, ” ujarnya, Selasa (8/9/2020).

Dalam rilisnya, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menyatakan, pemantauan BMKG mematok akhir Agustus 2020 terhadap ketaknormalan suhu muka laut pada daerah ekuator di Samudera Pasifik membuktikan adanya potensi La Nina (indeks Nino3. 4 = -0. 69), yang berpotensi mengakibatkan peningkatan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia pada saat musim hujan nanti.

Hal tersebut sejalan dengan prediksi institusi meteorologi dunia lainnya yang menyatakan ada peluang munculnya anomali iklim (La Nina). La Nina berkaitan secara lebih dinginnya suhu muka bahar di Pasifik ekuator dan bertambah panasnya suhu muka laut wilayah Indonesia. Sehingga menambah suplai menguap air untuk pertumbuhan awan-awan hujan di wilayah Indonesia dan menghasilkan peningkatan curah hujan.

Sementara itu di Samudra Hindia, pemantuan terhadap anomali suhu membuang laut menunjukkan kondisi IOD minus (indeks IOD= -0. 47). IOD negatif menandai suhu muka laut di Samudra Hindia sebelah barat Sumatra lebih hangat dibandingkan guru muka laut Samudra Hindia sebelah timur Afrika.

Kejadian ini juga menambah suplai menguap air untuk pertumbuhan awan-awan hujan di wilayah Indonesia dan menghasilkan peningkatan curah hujan, khususnya untuk wilayah Indonesia bagian barat. “Kondisi IOD negatif ini berpeluang berdiam hingga akhir tahun 2020, ” terangnya.

Baik iklim La Nina dan IOD minus tersebut diprediksi mengakibatkan sebagian provinsi Indonesia atau 27, 5 obat jerih Zona Musim (ZOM) berpotensi merasai musim hujan yang cenderung bertambah basah daripada rerata klimatologisnya.

Meskipun secara umum kondisi musim abu 2020/2021 di sebagian besar wilayah Indonesia atau pada 243 ZOM (71 persen) diprakirakan normal ataupun sama dengan rerata klimatologisnya. Pemutakhiran prediksi akan dilakukan setiap bulan.

Dwikorita menyampaikan pula bahwa musim hujan di Indonesia akan dimulai secara bertahap di akhir bulan Oktober, terutama dimulai dari wilayah Indonesia Barat serta sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan mengalami puncak musim hujan pada bulan Januari dan Februari 2021.

“Sebagian besar wilayah diprakirakan mengalami puncak musim hujan pada bulan Januari dan Februari 2021, yaitu sebanyak 248 ZOM (72, 5 persen), ” tambahan Dwikorita.

Dalam bertemu musim hujan 2020/2021, Kepala Tengah Informasi Perubahan Iklim, Dodo Gunawan mengimbau para pemangku kepentingan & masyarakat untuk tetap mewaspadai wilayah-wilayah yang akan mengalami musim abu lebih awal, yaitu di beberapa wilayah Sumatra dan Sulawesi, serta sebagian kecil Jawa, Kalimantan, NTB dan NTT.

Perlunya peningkatan kewaspadaan dan antisipasi dini untuk wilayah-wilayah yang diprediksi mau mengalami musim hujan lebih lepek dari normalnya yaitu di Sumatra, Jawa dan sebagian kecil Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara dan Papua.

Selain itu perlu diwaspadai pula wilayah-wilayah yang akan mengalami Depan Musim Hujan sama atau sedikit terlambat (10-20 hari), terutama pada wilayah-wilayah sentra pangan seperti Jawa, Bali, NTB dan Sulawesi. Bangsa diharapkan dapat lebih siap serta antisipatif terhadap kemungkinan dampak musim hujan terutama di wilayah yang rentan terjadi bencana hidrometeorologi laksana banjir dan tanah longsor.

Dwikorita selanjutnya menekankan perlunya kewaspadaan dan penyiapan secara bertambah dini dan optimal untuk jalan mitigasi oleh para pemangku perhatian dan Pemerintah Daerah yang wilayahnya diprakirakan akan mengalami musim hujan lebih maju atau lebih basah.

Mitigasi tersebut dengan melakukan pengelolaan tata air dengan terintegrasi dari hulu hingga mulut, antara lain dengan upaya memenuhi dan menyimpan air lebih periode ke danau, waduk, embung, bak retensi, dan penyimpanan air buatan lainnya, serta penyiapan kapasitas kali dan kanal untuk antisipasi volume air berlebih. [lus/suf]